Minggu, 14 Juli 2013

pengkajian mulut dan hidung


MAKALAH KEBUTUHAN HYGIENE DAN INTEGRITAS KULIT
PENGKAJIAN FISIK HIDUNG DAN MULUT
Disusun untuk Memenuhi Tugas Kebutuhan Hygiene dan Integritas Kulit
Dosen Pengampu : Triana Arisdiani, S.Kep., Ns dan Tim


PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KENDAL
Tahun Ajaran 2013/2014
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah yang berjudul “Pengkajian Fisik Hidung dan Mulut ”. Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah modul Kebutuhan Hygiene dan Integritas  Kulit semester 4 di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal.
Kami menyampaikan ucapan terimakasih kepada pihak-pihak yang membantu dalam penyelesaian makalah ini, khususnya kepada:
1.         Ibu Triana Arisdiani, S.Kep.,Ns, dan tim selaku dosen pembimbing mata kuliah modul kebutuhan hygiene dan integritas kulit, yang selalu memberikan bimbingan dan juga pengarahan kepada kami.
2.         Rekan-rekan satu kelompok yang terus memberikan bantuan pikiran dan tenaga.
3.         Keluarga yang telah memberikan bantuan kami, berupa dorongan dan doa juga biaya yang menjadikan makalah ini bisa selesai.
4.         Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu.
Kami sadar dalam penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan, baik pada penulisan maupun materi, mengingat kemampuan yang kami miliki. Untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah kami.
Semoga isi dari makalah ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi yang membacanya.Amin yarobbalalamin.
                                                                                    

                                                                                                            Penulis



DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL .............................................................................................. i           
KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB   I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ...................................................................................... 1
B.     Rumusan Masalah ................................................................................. 1
C.     Tujuan Makalah ..................................................................................... 1
BAB   II PEMBAHASAN
A.    Pengkajian mulut .................................................................................. 2
B.      Pengkajian hidung................................................................................ 4
BAB   III PENUTUP
A.    Kesimpulan........................................................................................... 8
B.     Saran .................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada kondisis klinik, perawat merupakan orang pertama yang berjumpa atau  mendeteksi perubahan pada kondisi klien tanpa memeperhatikan latar belakangnya. Oleh karena itu, kemampuan berfikir dan menginterpretasi secara kritis tentang arti perilaku klien dan perubahan fisik yang ditampilkan merupakan hal yang sangat penting bagi perawat. Keterampilan pengkajian keperawatan  menjadi alat kuat bagi perawat untuk mendeteksi perubahan, untuk mencari informasi tentang status kesehatan klien, perawat harus melakukan aktivitas kerja pada berbagai tempat.
Hidung dan mulut merupakan organ tubuh dari manusia yang sangat penting, Pemeriksaan hidung dengan tujuan untuk mengetahui keadaan bentuk dan fungsi hidung. Pengkajian hidung dimulai dari bagian luar, bagian dalam, kemudian sinus-sinus. Sedangkan pengkajian mulut dimulai dengan mengamati bibir, gigi, gusi, lidah, selaput lender, pipi bagian dalam, lantai dasar mulut dan palatum atau langit-langit mulut.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana cara mengkaji hidung?
2.      Bagaimana cara mengkaji mulut?

C.     Tujuan Makalah
1.      Tujuan Umum
Setelah membaca makalah ini diharapkan mahasiswa mampu memahami dan melakukan bagaimana pengkajian mulut dan hidung.
2.      Tujuan Khusus
Setelah membaca makalah ini Mahasiswa mampu memahami :
a.       Pengkajian hidung bagian luar dan dalam..
b.      Pengkajian mulut dan lidah.
BAB II
PEMBAHASAN

A.      PENGKAJIAN HIDUNG
Pemeriksaan hidung dengan tujuan untuk mengetahui keadaan bentuk dan fungsi hidung. Pengkajian hidung dimulai dari bagian luar, bagian dalam, kemudian sinus-sinus. Pasien dipersiapkan dalam posisi duduk bila memungkinkan. Peralatan yang dipersiapkan antara lain, otoskop, speculum hidung, cermin kecil, dan sumber penerangan atau lampu.
Inspeksi dan palpasi kesejajaran, warna kulit, lesi, nyeri, cairan yang keluar dan kepatenan jalan nafas.  Inspeksi warna vestibula, membran mukosa merah muda, dan septum nasal lengkap dengan posisi midline. Inspeksi mukosa hidung, warna, kelembaban, perforasi, massa, eksudat, inflamasi, dengan menggunakan otoskop spekulum nasal dan penlight.
Palpasi sinus frontal dan sinus maksilaris untuk mengetahui adanya bengkak dan nyeri .
Tes penciuman, dengan pendekatan pepermint,bubuk kopi,kayu manis dan cengkeh ke hidung kemudian minta klien menyebutkan apa yang dciumnya dengan mata tertutup.

Cara inspeksi dan palpasi hidung bagian luar serta palpasi sinus-sinus :
1.      Duduk menghadapi pasien
2.      Atur penerangan dan amati hidung bagian luar dari sisi depan, samping, dan atas.
3.      Amati warna dan pembengkakan pada kulit hidung
4.      Amati kesimetrisan lubang hidung
5.      Lanjutkan dengan melakukan palpasi hidung luar dan catat bila ditemukan ketidaknormalan kulit atau tulang hidung
6.      Kaji mobilitas septum nasi
7.      Palpasi sinus maksilaris, frontalis, dan edmoidalis.
Cara inspeksi hidung bagian dalam :
1.      Duduk menghadap pasien
2.      Pasang lampu kerja
3.      Atur lampu sehingga tepat menerangi lubang hidung.
4.      Elevasikan ujung hidung pasien dengan cara menekan hidung secara lembut dengan ibu jari, kemudian amati bagian anterior lubang hidung.
5.      Amati posisi septum nasi dan kemungkinan adanya perfusi.
6.      Amati bagian konka nasalis inferior
7.      Pasang ujung speculum hidung pada lubang hidung sehingga rongga hidung dapat diamati
8.      Posisikan kepala sedikit menengadah
9.      Dorong kepala menengadah sehingga bagian atas rongga hidung mudah diamati
10.  Amati bentuk dan posisi sptum kartilago dan dinding-dinding rongga hidung
11.  Bila sudah selesai lepas speculum secara perlahan

Pengkajian hidung bagian dalam yang dilakukan dibawah bimbingan instruktur ahli, dapat pula menggunakan otoskop. Dianjurkan menggunakan ostoskop yang dilengkapi dengan speculum hidung dan kaca pembesar. Pengkajian kepatenan jalan napas dilakukan terutama bila dicurigai adanya sumbatan atau deformitas pada rongga hidung bagian bawah.

Cara pengkajian kepatenan jalan napas:
1.      Duduk dihadapan pasien.
2.      Gunakan sapu tangan untuk menutup satu lubang hidung pasien, minta pasien menghembuskan udara dari lubang tersebut. Normalnya udara dapat dihembuskan dengan mudah dan dapat dirasakan dengan jelas.
3.      Kaji lubang hidung sebelahnya.
Kepatenan jalan napas juga dapat dikaji dengan menggunakan sebuah cermin yang diletakan dibawah hidung. Pasien dianjurkan untuk menghembusksn udara dengan mulut tertutup, kemudian kondensasi udara pada cermin dimatai. Normalnya sisi kanan dan kiri seimbang.

B.       PENGKAJIAN MULUT
Pengkajian mulut dilakukan dengan posisi pasien duduk. Pencahayaan harus baik, sehingga semua bagian mulut dapat diamati dengan jelas. Pengkajian dimulai dengan mengamati bibir, gigi, gusi, lidah, selaput lendir, pipi bagian dalam, lantai dasar mulut dan palatum atau langit-langit mulut. Perawat  di ruang perawatan sering kali menggunakan keterampilan ini untuk mengkaji selaput lendir mulut pasien yang karena kondisinya tidak mampu makan dan minum atau pasien yang harus puasa. Pada situasi ini selaput lendir mulut harus dikaji dan kebersihan dipertahankan (hygiene oral) untuk menghindari luka pada selaput lendir mulut.
Cara inspeksi mulut dan faring :
1.      Bantu pasien duduk  berhadapan dan tinggi yang sejajar dengan anda (bila kondisi memungkinkan).
2.      Amati bibir untuk mengetahui adanya kelainan congenital, bibir sumbing, warna bibir, ulkus, lesi, dan massa.
3.      Lanjutkan pengamatan pada gigi dan anjurkan pasien membuka mulut.
4.      Atur pencahayaan yang memadai dan bila diperlukan gunakan penekan lidah agar gigiakan tampak lebih jelas.
5.      Amati posisi jarak, gigi rahang atas dan bawah, ukuran, warna, lesi, atau adanya tumor pada setiap gigi.amati juga akar-akar gigi secara khusus.
6.      Periksa setiap gigi dengan caraa mengetuk secara sistematis, bandingkan gigi bagian kiri, kanan, atas, dan bawah serta anjurkan pasien untuk member tahu bila merasa nyeri sewaktu giginya diketuk.
7.      Perhatikan pula cirri-ciri umum sewaktu melakukan pengkajian antara lain kebersihan mulut dan bau mulut.
8.      Lanjutkan pengamatan pada lidah dan perhatikan kesimetrisannya. Minta pasien menjulurkan lidah dan amati kelurusan, warna, ulkus, dan setiap ada kelainan.
9.      Amati warna, adanya pembengkakan, tumor, sekresi, peradangan, ulkus, dan pendarahan pada selaput lendir semua bagian mulut secara sistematis.
10.  Beri kesempatan pasien untk istirahat dengan menutup mulut sejenak bila capai, lalu lanjutkan inspeksi faring dengan menganjurkan pasien membuka mulut dan menekan lidah pasien ke bawah sewaktu pasien berkata “ah”. Amati kesimetrisan uvula pada faring.

Cara palpasi mulut :
Palpasi pada pengkajian mulut dilakukan terutama bila dari inspeksi belum diperoleh data yang meyakinkan. Tujuan palpasi pada mulut terutama adalah mengetahui bentuk dan setiap ada kelainan yang dapat diketahui melalui palpasi, yang meliputi pipi, dasar mulut, palatum, dan lidah. Palpasi harus dilakukan secara hati-hati dan perlu diupayakan agar pasien tidak muntah.
1.        Atur posisi pasien duduk menghadap anda.
2.      Anjurkanpasien membuka mulut.
3.      Pegang pipi diantara ibu jari dan jari telunjuk (jari telunjuk berada di dalam ). Palpasi pipi secara sistematis dan perhatikan addanya tumor atau pembengkakan. Bila ada pembengkakan, tentukan menurut ukuran, konsistensi, hubungan dengan daerah sekitarnya, dan adanya nyeri.
4.      Lanjutkan palpasi pada palatum denganjari telunjuk dan rasakan adanya pembengkakan dan fisura.
5.      Palpasi dasar mulut dengan cara meminta pasien mengatakan “el”, kemudian lakukan palpasi pada dasar mulut secara sistematis dengan jari telunjuk tangan kanan. Bila diperlukan, beri sedikit penekanan dengan ibu jari dari bawah dagu untuk mempermudah palpasi. Catat bila didapatkan pembengkakan.
6.      Palpasi lidah dengan cara meminta pasien menjulurkan lidah, pegang lidah dengan kassa streril menggunakan tangan kiri. Dengan jari telunjuk tangan kanan, lakukan palpasi lidah terutama bagian belakang dan batas-batas lidah.   




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Pengkajian fisik hidung dan mulut meliputi palpasi, inspeksi, dan tes kepekaan baik pada hidung dan mulut. Pengkajian fisik digunakan untuk mengetahui adanya kelainan pada suatu organ atau tidak.

B.     Saran
Sebagai seorang perawat hendaknya kita memeriksa organ-organ kita, apakah ada kelainan atau tidak. Karena dengan mengkaji lebih awal kita dapat menentukan apakah ada kelainan atau tidak untuk menegakkan diagnosa dan menentukan intervensi.



















DAFTAR PUSTAKA


Setiawati, Santun dan Agus Citra Dermawan. 2008. Panduan Praktis Pengkajian Fisik Keperawatan Edisi ke 3. Jakarta: TIM.

Priharjo, Roberts. 2006. Buku Pengkajian Fisik Keperawatan. Jakarta: EGC
Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta. EGC.

Evelyn C. pearce ( 2009 ) . Anatomi dan fisiologi untuk paramedic. Jakarta. Gramedia Pustka Utama

Sjamsuhidajat R. & Wim De Jong. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC

0 komentar:

Poskan Komentar

Followers

 
;